Peneliti Barat Menyebut Orang Bajo di Sulawesi Sebagai Manusia Super


Evolusi adalah kata yang berasal dari bahasa latin yang artinya membuka gulungan atau membuka lapisan. Kemudian bahasa itu diserap menjadi bahasa inggris evolution yang berarti perkembangan secara bertahap. Teori evolusi berpendapat bahwa terjadi perubahan pada makluk hidup menyimpang dari struktur awalnya. Tujuan utama makhluk hidup melakukan evolusi adalah agar mereka bisa bertahan hidup. Dilansir Grid.ID dari New York Times, pada Kamis (19/4/2018) journal Cell, sekelompok peneliti melaporkan adanya jenis adaptasi yang mengarah ke evolusi pada manusia.
Temuan itu mereka dapati pada Orang Bajo atau kerap juga disebut "Orang Laut", "Sama Bajau" atau "Gipsi Laut". Dalam laporan itu disebutkan bahwa sekelompok orang yang tinggal di laut di Asia Tenggara telah berevolusi menjadi penyelam yang lebih baik.
Kelompok itu mengacu pada Orang Bajo yang tersebar di berbagai negara seperti Indonesia, malaysia dan Filipina. Ketika para antropolog mempelajari budaya Orang Bajo, para ahli biologi juga semakin penasaran dengan mereka.
Pasalnya Orang Bajo dikenal sebagai penyelam tangguh. Mereka dapat menyelam di kedalaman 200 kaki (60 meter) di dalam air. Bahkan satu-satunya perlindungan yang digunakan Orang Bajo untuk menyelam hanyalah kacamata kayu. Bagi para peneliti barat, hal ini dianggap sebagai sebuah keajaiban fisiologis. Bahkan Dailymail menyebut orang Bajo sebagai Manusia Super yang mengalami evolusi hingga dijuluki 'Fish People' atau manusia ikan. Pada 2015, Melissa Ilardo, yang kemudian menjadi mahasiswa pascasarjana di bidang genetika di Universitas Kopenhagen, mendengar tentang Orang Bajo. Melissa melakukan perjalanan ke Sulawesi, Indonesia, dan kemudian ke pulau terumbu karang di mana dia mencapai desa Bajo. Dengan mesin ultrasound portabel Melissa mengukur ukuran limpa orang Bajo. Melissa mengamati penduduk desa Bajo dan kemudian melakukan perjalanan sekitar 15 mil ke pedalaman ke sebuah desa yang ditempati oleh petani yang dikenal sebagai Saluan. Dia memindai limpa warga Saluan juga. Ketika Melissa membandingkan hasil scan dari dua desa, dia menemukan perbedaan yang mencolok. Orang Bajo memiliki limpa sekitar 50 persen lebih besar dari rata-rata orang Saluan. Limpa yang lebih besar dapat mendukung makhluk hidup menyelam lebih dalam. Pasalnya limpa yang membesar tampak berfungsi seperti tangki scuba yang lebih besar. Hanya beberapa orang Bajo yang menjadi penyelam penuh waktu. Yang lain, yang berprofesi seperti guru dan penjaga toko, tidak pernah menyelam. Tetapi mereka juga memiliki limpa besar, kata Melissa. Kemungkinan orang Bajo dilahirkan dengan Limpa besar berkat gen mereka. François-Xavier Ricaut, seorang antropolog di Universitas Toulouse yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa belum jelas seberapa cepat perubahan evolusioner ini terjadi. Beberapa peneliti menduga Orang Bajo baru mulai menyelam ke laut yang dalam ketika pasar teripang dibuka di Cina pada tahun 1600-an.
Atau mungkin adaptasi dimulai ribuan tahun sebelumnya, pada akhir Zaman Es, ketika naiknya permukaan laut mengubah wilayah di sekitar Indonesia menjadi pulau-pulau.

"Studi ini bertindak sebagai petunjuk untuk pertanyaan menarik ini," kata Dr Ricaut.

Sementara itu, Melissa Ilardo mengatakan ada kemungkinan sejumlah gen lain membantu Orang Bajo menyelam lebih baik.

Baca Sumber

Comments